[Story 66] Sejarah Indonesia | Part 1 : Konsep Berpikir Sejarah : Konsep Berpikir Diakronik (Kronologis) dan Sinkronik Beserta Contohnya
Subject : Sejarah Indonesia
Theme : Part 1 : Konsep Berpikir Sejarah : Konsep Berpikir Diakronik (Kronologis) dan Sinkronik Beserta Contohnya
By : Conan Caraka N.
A. Pengertian Diakronis, Sinkronis, dan Kronologi
• Sinkronis : meluas dalam ruang, tetapi terbatas dalam waktu.
• Diakronis : memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang.
• Kronologi : catatan kejadian-kejadian yang diurutkan sesuai urutan waktu terjadinya. Kronologi dalam peristiwa sejarah dapat membantu merekonstruksi kembali suatu peristiwa berdasarkan urutan waktu secara tepat. Selain itu, dapat juga membantu untuk membandingkan kejadian sejarah dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda terkait peristiwanya. Dapat dikatakan diakronik mirip dan sama dengan kronologis.
B. Contoh Cara Berfikir Diakronik dalam mempelajari sejarah
Sejarah itu diakronis, maksudnya memanjang dalam waktu. Sejarah mementingkan proses. Sejarah akan membicarakan 1 peristiwa tertentu dengan tempat tertentu, dari waktu A sampai B. Berpikir diakronik, artinya berpikir step by step sesuai skala prioritas dan sesuai urutan kejadiannya (= berpikir kronologis).
Ex :
1. Perkembangan Sarekat Islam di Solo (1911 - 1920)
2. Revolusi Fisik di Indonesia (1945 - 1949)
3. Masa Demokrasi Liberal (1950 - 1959), dst.
C. Contoh Cara Berpikir Sinkronik dalam Mempelajari Sejarah
Ilmu sosial itu sinkronik (menekankan struktur), artinya ilmu sosial meluas dalam ruang. Pendekatan sinkronik menganalisis sesuatu tertentu pada saat tertentu, titik tetap pada waktunya. Ini tidak berusaha untuk membuat kesimpulan tentang perkembangan peristiwa yang berkontribusi pada kondisi saat ini, tetapi hanya menganalisis suatu kondisi seperti itu.
Ex : untuk membahas ekonomi Indonesia diperlukan pendekatan sinkronis supaya dapat menggambarkan keadaan ekonomi di Indonesia pada suatu waktu tertentu, menganalisis struktur dan fungsi ekonomi hanya pada keadaan tertentu dan pada saat itu secara meluas.
Kedua ilmu ini saling berhubungan (ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial). Kita ingin mencatat bahwa ada persilangan antara sejarah yang diakronis dan ilmu sosial lain yang sinkronis Artinya, ada kalanya sejarah menggunakan ilmu sosial. Dan sebaliknya, ilmu sosial menggunakan sejarah. Ilmu diakronis bercampur dengan sinkronis, dst.
Ex :
- Peranan militer dalam politik (1945-1999), yang ditulis oleh seorang ahli ilmu politik.
- Elit agama dan politik (1945-2003), yang ditulis oleh oleh seorang ahli sosiologi.
Konsep ruang :
- Ruang adalah konsep yang paling melekat dengan waktu.
- Ruang merupakan tempat terjadinya pelbagai peristiwa sejarah dalam perjalanan waktu.
- Penelaahan suatu peristiwa berdasarkan dimensi waktunya tidak dapat terlepaskan dari ruang waktu terjadinya peristiwa tersebut.
- Jika waktu menitikberatkan pada aspek kapan peristiwa itu terjadi, maka konsep ruang menitikberatkan pada aspek tempat di mana peristiwa itu terjadi.
Konsep waktu :
- Masa lampau itu sendiri merupakan sebuah masa yang sudah terlewati. Tetapi, masa lampau bukan merupakan suatu masa yang final, terhenti, dan tertutup.
- Masa lampau bersifat terbuka dan continue (berkesinambungan), sehingga dalam sejarah masa lampau manusia bukan demi masa lampau itu sendiri dan dilupakan begitu saja. Sebab, sejarah itu continue (berkelanjutan). Apa yang terjadi di masa lampau, dapat dijadikan sebagai gambaran bagi kita untuk bertindak di masa sekarang, dan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
- Sejarah dapat digunakan sebagai modal bertindak di masa kini dan menjadi acuan untuk planning di masa yang akan datang.
Keterkaitan konsep ruang dan waktu dalam sejarah :
1. Konsep ruang dan waktu merupakan unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu peristiwa / perubahannya dalam suatu peristiwa dan perubahannya dalam kehidupan manusia sebagai subject / pelaku sejarah.
2. Segala aktivitas manusia pasti berlangsung bersamaan dengan tempat dan waktu kejadian.
3. Manusia selama hidupnya tidak akan pernah bisa dilepaskan dari unsur tempat dan waktu. Karena perjalanan manusia sama perjalanan waktu itu sendiri pada suatu tempat di mana manusia hidup dan beraktivitas.
D. Kronologi dalam Sejarah Indonesia
Kronologi dan periodisasi merupakan hal yang sangat penting dalam sejarah. Dengan periodisasi, sejarawan dapat lebih fokus pada penelitian sejarah. Hasil penelitiannya juga akan lebih sempurna. Kesempuraan ini juga akan lebih lengkap jika hasil penelitian sejarah disusun secara kronologis, di mana urutan waktu terjadinya peristiwa sejarah tersebut dapat dilihat dengan baik.
Dalam mempelajari dan menyusun peristiwa sejarah, akan selalu terkait dengan waktu. Waktu adalah sesuatu yang bergerak, mulai dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Peristiwa-peristiwa tersebut harus bergerak, sehingga melahirkan peristiwa baru yang saling terkait dan tidak pernah terhenti. Upaya yang dilakukan para sejarawan untuk menyusun peristiwa sejarah secara teratur menurut waktnya disebut kronologi sejarah.
Hal yang membedakan antara kronologi dan periodisasi hanya pada batasan waktunya saja. Periodisasi mengatur pembagian / pembabakan peristiwa masa lampau dengan batasan waktu yang terbatas. Dalam kenyataan sejarah yang sebenar, tidak dikenal adanya kronologi maupun periodisasi sejarah. Karena pada hakikatnya, peristiwa saling berkesinambungkan antara yang satu dengan yang lainnya, dan tidak akan terputus dalam 1 periodisasi.
Kronologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu chronos : waktu, dan logos : ilmu pengetahuan. Secara harfiah, kronologi berarti ilmu mengenai waktu. Kronologi adalah urutan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan kejadiannya. Dalam sejarah, kronologi adalah ilmu untuk menentukan waktu terjadinya suatu peristiwa dan tempat peristiwa tersebut secara tepat berdasarkan urutan waktu. Tujuan kronologi adalah untuk menghindari anakronisme / kerancuan waktu sejarah.
Ada beberapa ukuran waktu / sistem penanggalan untuk menunjukkan suatu kronologi peristiwa, ex : Masehi Islam & traditional Chinese.
Catatan tahun terjadinya suatu peristiwa sejarah disebut kronik.
Tujuan periodisasi dan kronologi dalam penulisan sejarah bertujuan untuk mempermudah dalam mempelajari sejarah.
Kronologi sejarah di Indonesia bermula dari zaman batu, yang terdidi dari : neolithikum (zaman batu muda), mesolithikum (zaman batu tengah), megalithikum (zaman batu besar), palaeolithikum (zaman batu tua), dan zaman logam.
Kemudian, berlanjut ke zaman masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia, zaman masuknya agama Islam ke Indonesia, zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, kemudian zaman kemerdekaan Republik Indonesia, zaman Orde Lama, zaman Orde Baru, hingga saat ini zaman reformasi.
E. Periodisasi Sejarah Indonesia
Periodisasi adalah pembabakan waktu yang digunakan untuk pelbagai peristiwa. Dalam sejarah Indonesia, periodisasi dibagi 2, yaitu :
a. Zaman praaksara (prasejarah), yaitu zaman sebelum manusia mengenali tulisan. Sejarah tidak dipelajari melalui tulisan, tetapi dipelajari melalui benda-benda bekas peninggala purbakala : artefak, fitur, ekofak, dan situs.
- Artefak adalah semua benda yang jelas memperlihatkan hasil garapan sebagian / seluruhnya sebagai pengubahan sumber alam oleh tangan manusia.
- Fitur adalah artefak yang dapat dipindahkan tanpa merusak tempatnya.
- Ekofak adalah benda yang berasal baik dari unsur lingkungan biotik maupun abiotik.
- Situs adalah bidang tanah yang mengandung peninggalan purbakala.
b. Zaman sejarah (zaman aksara), yaitu zaman di mana manusia sudah mengenali tulisan. Zaman sejarah dibagi 3, yaitu :
1) Zaman kuno, yang membicarkan sejak kerajaan tertua sampai ±abad ke-14. Pada zaman inilah bermulanya perkembangan kebudayaan Indonesia yang dipengaruhi oleh Hindu-Buddha.
2) Zaman Indonesia baru, yang membicarakan masa perkembangan Islam di Indonesia (±abad ke-15 - ±abad ke-18)
3) Zaman Indonesia modern, yang di mana di sinilah terjadi pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia sejak masa pemerintahan kolonial Belanda (±1800 - sekarang (masa kontemporer)).
Berdasarkan perkembangan politik, periodsiasi dapat dilakukan berdasarkan bermulanya raja-raja yang memerintah di suatu daerah, ex : Kasultanan Yogyakarta, Kasultanan Banten, dsb.
Berdasarkan perkembangan sosial ekonomi, periodisasi dapat dilakukan dengan pembagian sejarah berdasarkan sistem mata pencaharian masyarakat, ex : masa berburu dan mengumpulkan makanan yang diikuti dengan masa bercocok tanam dan hidup menetap.
Berdasarkan kebudayaan, periodisasi dilakukan dengan mengelompokkan masyarakat dengan kebudayaan terendah sampai masyarakat dengan kebudayaan tertinggi.
Tujuan pembatasan waktu dalam penulisan sejarah adalah agar mudah diingat, menyederhanakan cerita, memenuhi persyaratan sistematika, ilmu pengetahuan, mengklasifikasikan isi sejarah, dsb.
Pars pro toto : cara berpikir yang menyamakan sebagian dengan keseluruhan, ex : masa kemerdekaan Republik Indonesia dengan Soekarno Hatta, masa Orde Baru dengan Soeharto, dsb.
Konsep teoritik tentang periodisasi sejarah Indonesia pernah dibahas dalam Seminar Sejarah Nasional I tahun 1957, yang menghasilkan hal-hal sebagai berikut :
a. Konsep periodisasi dari Prof. Dr. Soekanto
Menurut pendapat Dr. Soekanto, periodisasi hendaknya berdasarkan ketatanegaraan, artinya bersifat politik. Pembagian atas babakan masa (periodisasi) yang berdasarkan kenyataan-kenyataan sedapat mungkin harus eksak serta praktis. Menurutnya, periodisasi sejarah Indonesia diusulkan secara kronologis sebagai berikut :
1) Masa pangkal sejarah (±SM – ±0 M)
2) Masa Kutai-Tarumanegara (±0 – ±600 M)
3) Masa Sriwijaya - Medang - Singosari (±600 – ±1300 M)
4) Masa Majapahit (±1300 – ±1500 M)
5) Masa Kerajaan Islam (±1500 – ±1600 M)
6) Masa Aceh, Mataram, Makassar (±1600 – ±1700 M)
7) Masa pemerintah asing (±1700 – ±1945)
a. Zaman VOC (±1800 – ±1808)
b. Zaman Daendels (±1808 – ±1811)
c. Zaman British Government (±1811 – ±1816)
d. Zaman Nederlands – India (±1816 – ±1942)
e. Zaman pendudukan Jepang (±1942 – ±1945)
8) Masa Republik Indonesia (1945 – sekarang)
b. Periodisasi menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo
Menurut pemikiran Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, sebagai dasar bagi babakan masa (periodisasi) adalah derajat integrasi yang tercapai di Indonesia pada masa lampau. Menurut pemikirannya, faktor ekonomi sangat memengaruhi perkembangan sosial, politik, dan culture di Indonesia. Faktor ekonomi memengaruhi kontak Indonesia dengan luar negeri yang mendatangkan pengaruh kebudayaan luar, baik budaya Hindu dari India, budaya Islam dari Asia Barat, serta budaya barat, baik dari Eropa atau negara-negara lainnya. Maka ada kemungkinan untuk membedakan 2 periode besar, yaitu : pengaruh Hindu dan pengaruh Islam.
Sebutan dari periode itu memakai nama kerajaan. Sebab sifat masyarakat pada waktu itu masih homogen dan berpusat pada raja (istana sentris). Adapun periodisasi yang diusulkan oleh
Prof. Dr. Sartono adalah sebagai berikut :
1) Prasejarah
2) Zaman Kuno :
a. Masa kerajaan-kerajaan tertua
b. Masa Sriwijaya (±abad VII – XIII atau XIV)
c. Masa Majapahit (±abad XIV – XV)
3) Zaman Baru
a. Masa Aceh, Mataram, Makassar / Ternate / Tidore (±abad XVI)
b. Masa perlawanan terhadap Imperialisme Barat (±abad XIX)
c. Masa pergerakan nasional (abad XX)
4) Masa Republik Indonesia (sejak tahun 1945)
Dari pemaparan tersebut terlihat bahwa munculnya banyak pandangan tentang babakan
masa periodisasi, seperti yang diajukan Prof. Dr. Soekanto dan Prof. Dr. Sartono, disusun dengan :
a. memakai dasar perkembangan peradaban (civilization),
b. babakan masa didasarkan atas segi kebudayaan (culture), dan
c. babakan masa atas dasar agama yang masuk ke Indonesia
Kesimpulannya : dasar kerangka teori pembabakan waktu / periodisasi dalam sejarah menunjukkan hasil pemikiran yang berbeda-beda. Namun, hal yang terpenting dalam penyusunan periodisasi adalah adanya prinsip kontinuitas.
F. Contoh-contoh Periodisasi Sejarah Indonesia
Contoh-contoh periodisasi sejarah Indonesia :
1. ±400 : zaman prasejarah Indonesia
1. ±400 : zaman prasejarah Indonesia
2. ±400 - ±1500 : zaman pengaruh Hindu-Budha dan pertumbuhan Islam
3. ±1500 - ±1670 : zaman kerajaan Islam dan mulai masuknya pengaruh Barat serta VOC
4. ±1670 - ±1800 : masa penjajahan oleh VOC
5. ±1800 - ±1811 : masa pemerintahan Herman W. Daendels
6. ±1811 - ±1816 : masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles (Inggris).
7. ±1816 - ±1830 : masa pemerintahan Komisaris Jenderal dan perlawanan terhadap Kolonial Belanda.
8. ±1830 - ±1870 : sistem tanam paksa oleh Gubernur Van den Bosch.
9. ±1870 - ±1942 : sistem ekonomi Liberal Kolonial dan Politik Etis.
10. ±1908 : masa Pergerakan Nasional
11. ±1942 - ±1945 : masa pendudukan Jepang.
12. ±1945 - ±1949 : perjuangan mempertahankan Kemerdekaan.
13. ±1949 - ±1950 : masa pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS)
14. ±1950 - ±1959 : penerapan sistem Demokrasi Liberal - Parlementer
15. ±1959 - ±1966 : masa Demokrasi Terpimpin
16. ±1966 - ±1998 : masa Orde Baru
17. ±1998 - kini : era reformasi
Disclaimer : penulisan artikel sejarah bisa saja salah. Apabila saudara menemukan kesalahan dalam penulisan artikel sejarah, mohon dikoreksi kembali 🤗 🤗 🤗
Comments
Post a Comment